Materi kelas 11 Sejarah Indonesia "PERLAWANAN TERHADAP PENDUDUKAN MILITER JEPANG"

Pasukan Jepang awalnya datang ke Indonesia dengan pesan damai. Namun, semakin lama rakyat Indonesia menyadari bahwa kedatangan Jepang ternyata mempunyai maksud lain. Penindasan dan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan Jepang membuat rakyat marah dan melakukan perlawanan di berbagai daerah. Apa sajakah perlawanan yang dilakukan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang? Apakah faktor penyebabnya? Mari simak bahasan berikut.
Pada mulanya, Jepang datang ke Indonesia dengan propaganda Gerakan Tiga A, yaitu Jepang Pemimpin Asia, Jepang Cahaya Asia, serta Jepang Pelindung Asia. Jepang berusaha mencari dukungan melalui kerja sama dengan tokoh nasionalis Indonesia seperti Moh. Hatta dan Sjahrir. Kerja sama Indonesia-Jepang diwujudkan dalam gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Jepang lantas membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk menarik simpati rakyat serta organisasi-organisasi militer dan paramiliter sepertiKeibodan (barisan bantu militer), Seinendan (barisan pemuda), juga Heiho (pembantu prajurit) untuk membantu Jepang di medan perang. Namun, kebutuhan sarana perang yang terus bertambah seperti pembangunan benteng, jalan raya, rel kereta api, jembatan, dan lapangan terbang membuat Jepang mengadakan tenaga kerja Romusha, yang awalnya bersifat sukarela, menjadi keharusan dan paksaan sehingga menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Jepang berhasil menguasai Pulau Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Satu-satunya pulau yang tidak dikuasai oleh Jepang adalah Papua. Pada akhirnya, muncullah berbagai perlawanan menentang kekuasaan Jepang di Indonesia sebagai berikut:
1) Perlawanan Rakyat Cot Plieng, Aceh
Perlawanan masyarakat Aceh terhadap Jepang dipimpin oleh seorang guru mengaji di Cot Plieng, yakni Tengku Abdul Jalil. Perlawanan masyarakat Aceh disebabkan oleh sikap Jepang yang sewenang-wenang terhadap rakyat. Jepang mengajak Tengku Abdul Jalil untuk berunding, namun tawaran tersebut ditolak. Hal ini membuat Jepang marah dan kemudian menyerang Cot Plieng pada tanggal 10 November 1942 yang berujung pada terbunuhnya Tengku Abdul Jalil pada saat melaksanakan ibadah shalat subuh.
2) Perlawanan Rakyat Sukamanah, Tasikmalaya
Perlawanan rakyat Sukamanah, Tasikmalaya dipimpin oleh K.H. Zainal Mustofa. Perlawanan ini disebabkan oleh aturan Jepang untuk melakukan Seikerei, yaitu melakukan penghormatan terhadap Kaisar Jepang dengan membungkukkan badan ke arah Tokyo. Masyarakat diharuskan mendewakan Kaisar Jepang. Namun, hal ini bertentangan dengan ajaran Islam karena dianggapmusyrik (menyekutukan Allah SWT).
Untuk meredakan perlawanan ini, Jepang mengirim pasukan ke Sukamanah, Tasikmalaya pada tanggal 25 Februari 1944. Warga Sukamanah pun tidak tinggal diam dan melakukan perlawanan. Namun, pada akhirnya, K.H. Zainal Mustofa beserta pengikutnya berhasil ditangkap dan dihukum mati.
3) Perlawanan di Lohbener, Jawa Barat
Perlawanan rakyat Lohbener, Jawa Barat terjadi di beberapa desa, yaitu Desa Kopiah dan Desa Anjatan pada 23 Oktober 1943 serta di Desa Kaplongan, Karangampel pada April 1944. Perlawanan terbesar terjadi di Desa Cidampet, tanggal Mei 1944, yang dipimpin oleh K.H. Srengsengan dan Kyai Madrias. Perlawanan ini dipicu oleh pengumuman kebijakan Jepang yang menaikkan pungutan padi “panceng” oleh Kuncho Usman. Masyarakat Desa Cidampet harus menyerahkan 25 kilogram hasil panen padi, padahal sebelumnya hanya 5-10 kilogram tergantung kemampuan masyarakat.
4) Perlawanan di Pontianak, Kalimantan Barat
Perlawanan Mandor Pontianak berawal dengan diadakannya pertemuan dengan agenda merencanakan perlawanan terhadap Jepang pada tahun 1944. Kegiatan ini kemudian sampai ke telinga Jepang, sehingga Jepang berinisiatif menyerang terlebih dahulu. Akibatnya, banyak rakyat yang tertangkap dan dibunuh.
5) Perlawanan Pembela Tanah Air (PETA)
Perlawanan Pembela Tanah Air disebabkan oleh banyaknya kekejaman yang dilakukan pemerintah kolonial Jepang. Banyak korban romusha yang meninggal ketika dipekerjakan secara paksa dan banyak wanita serta anak-anak yang ditindas. Pasukan PETA yang dibentuk untuk membantu militer di medan perang pun akhirnya tergerak untuk membela rakyat dan melakukan perlawanan di beberapa daerah berikut:
a. Perlawanan PETA di Blitar
Pelawanan PETA terhadap Jepang di Blitar dipimpin oleh Supriyadi, seorang Suodanco (Komandan Peleton). Penyebab terjadinya perlawanan adalah kesengsaraan rakyat akibat perlakuan Jepang yang semena-mena. Perlawanan PETA di Blitar pertama kali berlangsung pada 14 Februari 1945. Perlawanan itu sangat merepotkan Jepang.
Jepang melakukan serangan balik yang didukung tank-tank dan pesawat udara, namun tidak membuat pasukan Supriyadi gentar. Mereka berjuang habis-habisan melawan kekejaman Jepang. Namun, persiapan dan dukungan rakyat yang kurang membuat mereka kalah. Satu demi satu prajurit PETA ditangkap dan kemudian diadili. Pimpinan perlawanan, Supriyadi, tidak diketahui nasibnya. Banyak orang yang menganggap Supriyadi telah dibunuh oleh Jepang.

b. Perlawanan PETA di Aceh
Perlawanan PETA di Aceh terjadi pada bulan November 1944 dan dipimpin oleh Teuku Hamid. Ia melarikan diri dari Asrama Gigugun bersama dua peleton pasukan. Setelah berhasil keluar, mereka membentuk kamp-kamp perlawanan di kawasan hutan Aceh. Perlawanan kemudian dapat dipadamkan Jepang dengan menyandera keluarga Teuku Hamid. Kemudian, Teuku Hamid beserta anggota pasukannya diadili dan dihukum mati.
c. Perlawanan PETA di Cilacap
Perlawanan PETA di Cilacap dipimpin oleh Budanco Khusaeri. Pertempuran ini banyak memakan korban, baik dari pihak Jepang maupun dari rakyat yang melakukan perlawanan. Hal ini diakibatkan oleh tindakan Jepang yang tidak segan untuk melakukan pembantaian. Akhirnya, perlawanan diakhiri oleh Khusaeri untuk mencegah lebih banyak korban rakyat yang tidak bersalah.

RANGKUMAN

1) Perlawanan rakyat Indonesia tumbuh akibat sikap Jepang yang semena-mena terhadap rakyat Indonesia, seperti kebijakan romusha yang mempekerjakan rakyat secara paksa dan kebijakan pembentukan pasukan militer seperti Seinendan, Heiho, dan PETA untuk membela kepentingan Jepang di medan perang.
2) Penindasan terhadap wanita dan anak anak pun membuat rakyat meradang dan kemudian melakukan perlawanan di beberapa daerah, seperti Aceh, Blitar, dan Cilacap.

Comments

Popular posts from this blog

Soal dan Jawaban kewirausahaan kelas 12

Jawaban Sejarah Indonesia Kelas 11 Hal 136

Materi kelas 11 Sejarah Indonesia "JANJI KEMERDEKAAN INDONESIA DARI JEPANG"