Materi kelas 11 Sejarah Indonesia "JANJI KEMERDEKAAN INDONESIA DARI JEPANG"
Apa dampak pemberontakan masyarakat kepada pemerintahan
Jepang? Apa motif di balik janji kemerdekaan dari Jepang? Berikut
penjelasannya.
Buruknya perlakuan pemerintahan pendudukan Jepang terhadap
masyarakat Indonesia menimbulkan pergolakan di tengah masyarakat. Berbagai
perlawanan timbul sebagai wujud ketidakpuasan terhadap Jepang yang mengingkari
janjinya di awal kedatangan ke Indonesia. Beberapa perlawanan yang muncul,
antara lain:
1. Pemberontakan Aceh pada tahun 1942 di Cot Plieng, Lhokseumawe di bawah pimpinan Tengku Abdul Jalil.
2. Pemberontakan Rakyat di Karang Ampel, Indramayu pada tahun 1943.
3. Perlawanan di Tasikmalaya pada tahun 1943 di bawah pimpinan Zainal Mustafa. Perlawanan ini ditanggapi keras oleh Jepang dengan mengirimkan pasukannya, sehingga mengakibatkan pembunuhan massal di pihak rakyat Indonesia.
4. Pemberontakan PETA di Blitar, tanggal 14 Februari 1945, di bawah pimpinan Supriyadi.
1. Pemberontakan Aceh pada tahun 1942 di Cot Plieng, Lhokseumawe di bawah pimpinan Tengku Abdul Jalil.
2. Pemberontakan Rakyat di Karang Ampel, Indramayu pada tahun 1943.
3. Perlawanan di Tasikmalaya pada tahun 1943 di bawah pimpinan Zainal Mustafa. Perlawanan ini ditanggapi keras oleh Jepang dengan mengirimkan pasukannya, sehingga mengakibatkan pembunuhan massal di pihak rakyat Indonesia.
4. Pemberontakan PETA di Blitar, tanggal 14 Februari 1945, di bawah pimpinan Supriyadi.
Di akhir tahun 1944, kedudukan Jepang di Indonesia mengalami
tekanan yang sangat hebat. Selain dari pemberontakan yang dilakukan oleh
masyarakat Indonesia, juga berasal dari kondisi militer mereka yang semakin
melemah akibat kekalahan yang dialami dalam Perang Asia Timur Raya dan Perang
Pasifik. Kekalahan tersebut menimbulkan kerugian, baik di bidang ekonomi dan
juga jumlah personil militer yang semakin berkurang.
Untuk menjamin posisinya di Indonesia, sekaligus upaya
terakhir mencari dukungan dalam Perang Dunia II yang diikuti Jepang sebagai
oposisi dari Sekutu, melalui Perdana Menteri Koiso, dikeluarkanlah janji
kemerdekaan pada tanggal 7 September 1944 dalam sidang Parlemen Jepang di
Tokyo. Janji ini kemudian ditindaklanjuti pada 1 Maret 1945 oleh pimpinan
militer Jepang di Jawa dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai atau
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang
diketuai K.R.T Radjiman Wedyodiningrat.
BPUPKI diserahi tugas untuk mempelajari dan mempersiapkan
hal-hal yang dianggap penting dipersiapkan untuk peralihan kekuasaan dari
Jepang ke negara Indonesia yang merdeka. Susunan keanggotaan BPUPKI adalah
kolaborasi antara perwakilan Jepang dengan perwakilan dari Indonesia. Tercatat
BPUPKI beranggotakan 67 orang Indonesia dan 7 orang perwakilan Jepang. Semasa
berdirinya BPUPKI, dilakukan sidang dua kali. Sidang pertama terselenggara pada
29 Mei-1 Juni 1945 dan sidang kedua dilangsungkan pada 10-16 Juli 1945. Sidang
yang dilakukan membahas undang-undang untuk negara Indonesia merdeka dan dasar
negara Indonesia.
Karena dinilai telah berhasil mengemban misi yang
dibebankan, BPUPKI lantas dibubarkan oleh Parlemen Jepang dan diganti dengan
badan lain bernama Dokuritsu Junbi Inkai atau Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Organisasi ini diketuai oleh Ir.
Soekarno dan diresmikan oleh Jenderal Terauchi, pimpinan militer Jepang di Asia
Tenggara pada 7 Agustus 1945.
Dalam pelantikan anggota PPKI, Jenderal Terauchi menjelaskan
bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dengan wilayah negara
meliputi seluruh wilayah bekas pendudukan Hindia-Belanda. Namun, ketika PPKI
mulai melaksanakan tugasnya, beredar kabar di Indonesia bahwa kondisi Jepang
terdesak oleh serangan Tentara Sekutu. Terlebih setelah peristiwa pemboman
Sekutu ke Kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan disusul dengan Kota Nagasaki
pada 9 Agustus 1945. Peristiwa ini semakin melemahkan pemerintahan Jepang
hingga akhirnya, melalui Kaisar Hirohito, mengumumkan penyerahan tanpa syarat
kepada tentara Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.
Kabar kekalahan Jepang ini disiarkan langsung oleh radio di
Indonesia dan disambut dengan gerakan cepat dari tokoh-tokoh pemuda yang lantas
mendesak PPKI, terutama Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, untuk sesegera mungkin
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanpa harus menunggu jadwal yang
ditentukan oleh Jepang. Dengan demikian, kemerdekaan yang diproklamirkan
nantinya adalah berasal dari bangsa Indonesia sendiri, bukan hadiah atau
pemberian Jepang.
RANGKUMAN
1) Masyarakat Indonesia melakukan pemberontakan atas
dominasi Jepang di Indonesia.
2) Jepang berada dalam tekanan setelah beberapa perang yang melibatkan militernya melawan milisi dari Eropa.
3) Menjelang akhir pendudukannya, Jepang melancarkan strategi untuk mencari simpati masyarakat Indonesia.
2) Jepang berada dalam tekanan setelah beberapa perang yang melibatkan militernya melawan milisi dari Eropa.
3) Menjelang akhir pendudukannya, Jepang melancarkan strategi untuk mencari simpati masyarakat Indonesia.
Comments
Post a Comment